Resensi Novel “Sang Pemimpi” Karya Andrea Hirata

Identitas Buku

Judul                     : Sang Pemimpi
Penulis                 : Andrea Hirata
Penerbit              : PT Bentang Pustaka
Halaman              : x + 292 Halaman
Cetakan               : ke-14, januari 2008
Jenis Cover         : Soft Cover
Dimensi(L x P)   : 130x205mm
Kategori               : Petualangan
Text                       : Bahasa Indonesia
ISBN                      : 979-3062-92-4

 Latar Belakang Pengarang

Andrea Hirata, lahir di Belitong. Meskipun studi mayornya ekonomi, ia amat menggemari sains-fisika, biologi, kimia, astronomi dan tentu saja sastra. Andrea lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi dan backpacker. Sekarang ia tengah mengejar mimpinya untuk tinggal di Kye Gompa, desa tertinggi di dunia, di Himalaya. Andrea berpendidikan ekonomi di Universitas Indonesia. Ia mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi master of science di Universite de Paris, Sorbonne, Prancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom. Tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dri kedua universitas tersebut dan lulus cum laude. Tesis itu telah di adaptasi ke dalam bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Saat ini Andrea tinggal di Bandung dan masih bekerja dikantor pusat PT. Telkom.

Sinopsis Buku

Setelah 40 tahun bumi pertiwi merdeka, akhirnya Belitong Timur, pulau timah yang kaya raya itu, memiliki sebuah SMA Negeri, yaitu SMA Negeri Bukan Main. Artinya tidak perlu lagi menempuh 120 kilometer untuk mengenyam pendidikan di bangku SMA. Namun tetap tidak mudah, karena sang kepala sekolah, Drs. Julian Ichsan Balia, yang juga seorang guru kesusastraan, sangat disiplin dan konsisten dalam menentukan siapa anak didiknya, NEM minimal 42, tidak bisa ditawar-tawar. Bahkan Mustar M. Djai’din, B.A, seorang guru biologi yang juga merupakan salah satu perintis berdirinya SMA Negeri Bukan Main, tidak berhasil menggoyahkan kokohnya peraturan Pak Balia. Meski beropini apapun anak laki-lakinya yang memiliki NEM 41,75 tetap gagal menjadi siswa di sekolah yang telah diusahakannya itu.

Ikal, Arai, dan Jimbron, yang merupakan tokoh protagonis dalam novel ini, diterima bersekolah di SMA Negeri Bukan Main. Mereka salah satu anak dari keluarga kurang beruntung di kampung terpencil di Belitong.  Ikal sedikit lebih beruntung dari Arai dan Jimbron. Karena walau ia hanyalah anak seorang pekerja PN Timah Belitong yang terancam terseret gelombang PHK, setidaknya ia memiliki keluarga yang lengkap dan penuh cinta kasih. Ia sangat mengagumi sosok ayahnya, yang ia sebut juara satu seluruh dunia.

Sedangkan Arai dan Jimbron memiliki kisah yang dapat dikatakan serupa. Arai merupakan simpai keramat, yakni orang terakhir yang tersisa dari suatu klan. Saat ia kelas satu SD, Ibunya meninggal ketika melahirkan, begitu pula adiknya yang baru lahir. Belum berakhir masa dukanya, saat ia naik kelas tiga SD, ayahnya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Arai yang ternyata adalah sepupu jauh Ikal, kemudian diadopsi oleh Pak Seman Said Harun, ayah Ikal.

Jimbron yang kini gagap sebenarnya memiliki kisah amat pilu dibalik kegagapannya. Jimbron memiliki dua adik kembar perempuan. Ibunya wafat ketika Jimbron kelas empat SD. Sementara ayah yang ia jadikan orientasi hidupnya, terkena serangan jantung saat membonceng Jimbron dengan sepeda. Saat itu belum sampai 40 hari ibunya wafat. Jimbron sekuat tenaga pontang-panting membonceng ayahnya menuju Puskesmas. Setelah beberapa menit di Puskesmas, ayah Jimbron meninggal. Sejak saat itu Jimbron gagap. Kejadian memilukan itu juga berakibat munculnya ketertarikan Jimbron pada kuda yang mencapai tingkat obsesi komplusif. Kedua adik kembarnya diasuh bibinya di Pangkal Pinang, Pulau Bangka, sedangkan Jimbron diasuh oleh Pendeta Geovanny, sahabat keluarganya.

Ikal, Arai, dan Jimbron menyewa kamar kontrakan di Magai, karena jarak dari sekolah ke kampungnya terlalu jauh, yaitu 30 kilometer. Demi membiayai kehidupan dan membantu keluarga, mereka bekera menjadi kuli ngambat. Pekerjaan teramat berat dan kasar ini mengharuskan ketiganya bangun pukul 2 pagi, mengangkut ikan-ikan yang panjangnya rata-rata mencapai dua meter. Biasanya pekerjaan ini selesai pada pukul enam, sehingga mereka akan tergesa-gesa menggunakan sisa waktu sebelum jam tujuh.

Namun, walau bekerja sebegitu berat sambil sekolah, mereka tetap tidak melupakan status pelajar yang melekat dalam diri mereka. Buktinya, saat pembagian rapot, Ikal dan Arai berada di garda depan (peringkat sepuluh besar), Ikal di peringkat ketiga dan Arai di peringkat kelima. Sedangkan Jimbron, yang tumbuh invalid (kakinya panjang sebelah), namun memiliki semangat dan ketenangan yang luar biasa, berhasil mempersembahkan kursi nomor 78 untuk Pendeta Geo. Mereka punya mimpi yang hebat: berkelana menjelajahi Eropa sampai ke Afrika. Sekolah ke Prancis. Menginjakkan kaki di altar suci almamater Sorbonne.

Ikal, Arai, dan Jimbron, walau memberi inspirasi, tetap saja adalah remaja. Mereka tidak lepas dari jeratan perasaan yang sulit diterjemahkan dengan berbagai pemahaman dan kata-kata, yang disebut cinta. Ikal tetap setia pada cinta pertama yang entah dimana kini, A Ling, anak pemilik Toko Sinar Harapan. Arai pantang menyerah menjaga dan membuktikan cintanya pada sosok wanita yang sayangnya sangat tidak peduli. Pengorbanannya yang gigih, entah menguap kemana bagi seorang Zakiah Nurmala binti Berahim. Dan Jambron, lebih dari keobsesian komplusifnya terhadap kuda, ia mencintai Laksmi, gadis malang yang seakan lupa bagaimana cara tersenyum sejak keluarganya terenggut dalam peristiwa kecelakaan kapal di semenanjung yang kini dinamakan semenanjung Ayah.

Sebagai remaja, mereka terkadang lalai dan tergoda dengan gejolak perubahan menuju dewasa. Oleh karena itu, ketiganya kadang terseret masalah-masalah yang menimpa remaja pada umumnya. Namun dibalik setiap persoalan yang mereka ikut nimbrung atau bahkan yang mereka sebabkan, mereka mampu memetik dan menyimpulkan hikmah.

Ikal yang kini menginjak usia delapan belas rupanya telah mulai memahami realitas kehidupan. Ia kehilangan semangatnya. Dulu ia optimis bermimpi hingga melampaui posibilities-line, tapi kini, membayangkan mimpinya yang sangat tinggi itu, ia tersenyum pahit, menertawakan diri sendiri. Ia jadi banyak merenung memikirkan nasibnya masa depan yang paling banter menjadi pelayan restoran mi rebus atau kernet mobil omprengan reyot.

Walhasil, ia mempermalukan ayah yang ia cintai pada acara pembagian rapot di semester berikutnya. Ikal terhempas dari garda depan, merosot ke peringkat 75. Pak Mustar menerjangnya dengan kata-kata yang menyayat, ditambah kemarahan Arai yang membuat dadanya sesak. Puncaknya adalah ketabahan sang ayah yang pendiam, yang selalu menganggap hari pembagian rapot anaknya adalah momentum penting dalam hidupnya. Ia mengenakan setelan terbaiknya dan mengendarai sepeda sejauh 30 kilometer demi  menerima rapot anaknya. Ia tidak pernah berkata apapun, selain mengucap salam dan tersenyum bangga. Semua itu, ditambah penyesalan yang amat sangat, mampu membuatnya bangkit lagi.

Di semester terakhirnya bersekolah di SMA Negeri Bukan Main, Ikal berhasil membersihkan nama baik ayahnya, mempersembahkan kursi nomor tiga. Arai melejit naik menempati kursi nomor dua, tepat di samping kirinya, pujaan hati Arai bertengger, Nurmala tetap di posisi pertama sejak kelas sepuluh.

Berbekal tabungan hasil kerja sebagai kuli ngambat selama kurang lebih tiga tahun, ditambah masing-masing sebuah celengan penuh, pemberian dari Jimbron, Arai dan Ikal berangkat ke Jakarta. Mereka hanya memiliki dua petunjuk. Yang pertama adalah dari mualim kapten kapal Bintang Laut Selatan: tujulah Ciputat di Jakarta Selatan, tempat itu lumayan aman dibanding wilayah Jakarta lainnya. Yang kedua adalah wejangan kedua orangtuanya agar setiba di Jakarta mereka harus menemukan masjid terlebih dahulu. Namun, mereka malah terdampar di Bogor dengan pengetahuan sangat minim tentang kota itu.

Keberuntungan datang berbondong-bondong kepada dua petualang pencari ilmu ini. Mereka berhasil mencapai kompleks IPB, menemukan masjid, dan keesokan harinya menyewa kamar kontrakan di kawasan tersebut. Lebih dari itu, mereka berhasil memperoleh pekerjaan menjadi salesman. Namun, jiwa pekerja kasar yang melekat pada diri mereka bahkan selama tiga generasi sebelumnya tidak mampu ditransformasi seketika menjadi pedagang dalam masa percobaan satu bulan. Mereka kembali menganggur setelah diputuskan gagal menjadi salesman. Beruntung, salah satu sahabat mereka yang mempunyai usaha fotokopi merekrut keduanya.

Tawaran menjadi pegawai pos ternyata cukup menggiurkan. Namun prosesnya lumayan berat. Mereka harus menjalani beberapa test dan pelatihan fisik berbulan-bulan. Arai tersingkir pada test paru-paru, sedangkan Ikal melenggang maju hingga sukses menjadi pegawai pos bagian penyortiran surat. Tanpa sepengetahuan Ikal dan tanpa memberitahu alamat jelas, Arai bersama seorang temannya pergi ke Kalimantan untuk bekerja.

Ikal sangat lega karena akhirnya dapat mengenyam pendidikan lagi, tidak tanggung-tanggung, Fakultas Ekonomi di Universitas Indonesia. Di sumur ilmu yang kondang hingga berpuluh-puluh tahun berikutnya itu, Ikal bertemu Zakiah Nurmala. Sayang, Arai sedang tidak bersamanya.

Ikal baru saja lulus kuliah saat membaca pengumuman beasiswa strata dua yang diberikan Uni Eropa kepada sarjana-sarjana Indonesia. Ikal tidak sedetikpun melewatkan kesempatan berharga ini. Ia belajar jungkir balik demi mewujudkan mimpinya. Ia akhirnya berhasil melalui berbagai test panjang dan melelahkan, juga wawancara akhir. Saat itu, ia bertemu Arai kembali setelah berbulan-bulan berpisah. Arai juga mengambil kesempatan ini. Keduanya lalu memutuskan penantian hasil test akan mereka habiskan di kampung halaman,  Belitong.

Arai dan Ikal menemui sahabat lamanya, yang turut menyumbang dalam kesuksesan mereka hingga mencapai hari itu. Jimbron. Ia sukses merebut hati Laksmi dan membuat gadis itu tersenyum sepanjang waktu. Mereka kini mempunyai seorang anak berusia lima tahun. Arai dan Ikal lalu berkeliling kampung.

Dua amplop surat berisi keputusan hasil tes tiba di kediaman Bapak Seman Said Harun. Usai sholat Maghrib, Ikal dan kedua orangtuanya, arai ditemani foto alm. kedua orangtuanya, membuka suratnya masing-masing. Keduanya lulus tes dan berhak menerima beasiswa Uni Eropa, di Universitas yang sama, Universite de Paris, Sorbonne, Prancis.

 

Tanggapan

Novel “Sang Pemimpi” yang merupakan novel kedua dari tetralogi Laskar Pelangi ini benar-benar penuh inspirasi, tidak kalah mengagumkan dan menggugah dari novel karya Andrea Hirata sebelumnya. Bercerita tentang kehidupan tiga orang anak kampung dari kawasan PN Timah Belitong. Tiga pelajar perkasa yang begitu menghargai ilmu pengetahuan. Selain keterbatasan ekonomi, mereka memiliki kemauan tinggi dan dengan berusaha all out sekuat tenaga sekeras dan sekukuh baja, mengejar mimpi-mimpi yang terdengar sangat sumbang bila dipadukan dengan alunan kehidupan mereka yang membahana membuat hati miris.

Daya tarik pertama novel ini adalah bahwa novel “Sang Pemimpi” merupakan karya Andrea Hirata. Seorang Andrea Hirata, seperti dikatakan oleh Nicola Horner, adalah seorang seniman kata-kata. Ia memandang segalanya dari sudut pandang yang berbeda, tidak seperti orang kebanyakan. Dengan keahliannya dalam merangkai kata, ia mengemas dan menyajikan apa yang tampak dari matanya, menjadi sebuah suguhan yang sarat akan segala nilai plus.

Kedua. Andrea mendedikasikan novel best seller ini untuk sang ayah,  jelas tersurat dalam halaman v:

         “Untuk Ayahku Seman Said Harun, Ayah juara satu seluruh dunia”

 Juga dapat diketahui melalui salah satu bab khusus bertemakan kekagumannya pada sosok sang ayah, yaitu pada bab mozaik 8, Baju Safari Ayahku. Selain itu, dapat pula disimpulkan dari banyak kalimat maupun paragraf yang bertebaran di seluruh mozaik-mozaik dalam novel ini.

Ketiga. Buku ini mengandung banyak sekali inspirasi dan motivasi, hikmah yang dapat dipetik dengan mudah dari kisah-kisah yang disuguhkan. Semua yang mampu membakar semangat kaum muda dan kalangan pelajar. Salah satunya adalah,

         “Biar kau tahu, Kal, orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu!”

Banyak juga dikutip kata-kata yang berasal dari mulut-mulut para ahli, hasil pembelajaran selama hidup mereka,

         “Tidak semua yang dapat dihitung, diperhitungkan, dan tidak semua yang diperhitungkan, dapat dihitung!! Albert Einsten!! Fisikawan nomor wahid!”

Di tengah keterperosokan kaum muda bangsa dan menurunnya semangat persatuan karena beberapa budaya yang terlalu mendominasi kehidupan nusantara, serta kehidupan beragama yang semakin kalut, novel ini hadir bagai oase di tengah padang gurun yang beratus hektar luasnya. Jauh dari kesan menggurui, novel yang berhasil menerobos pasaran di dua puluh lima negara ini sanggup membuka mata batin kita semua mengenai arti penting ilmu pengetahuan. Baik pelajar maupun pengajar, harus berkomitmen tegas menanamkan kesadaran dan rasa hormat yang amat sangat kepada ilmu pengetahuan.

Melalui novel ini, para pembaca diajak menyadari akan betapa pentingnya arti bermimpi, bertujuan, bercita-cita, dan tekat serta keberanian untuk mewujudkannya.

 

Kelebihan Novel

Pada dasarnya, novel ini diangkat dari sebuah kisah yang luar biasa, dikemas secara luar biasa oleh pengarang yang luar biasa. Kisah sarat muatan moral, pendidikan, dan religi ini mampu menjadi inspirasi cemerlang bagi generasi muda Indonesia yang akhir-akhir ini mati angin.

Di masa-masa ini, ketika minat masyarakat untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar cenderung rendah, Andrea Hirata berhasil memperoleh tempat istimewa di hati para pembaca dengan menghadirkan sebuah novel berbahasa Indonesia baku. Itu karena sama sekali tidak ditemukan kekakuan dalam pembahasaan novelnya. Ia sukses menuntun pembaca menuju puncak pemahaman dengan potensi besar melahirkan motivasi sekuat baja, melalui alur cerita yang apik dan cerdas.

Kelihaian Andrea dalam mendeskripsikan latar yang mengangkat panji-panji kebudayaan tanah kelahirannya, lengkap dengan berbagai kondisi perekonomian, politik, sosial, dan aspek-aspek lain, memang patut diacungi jempol.

 

Kelemahan Novel

Cukup sulit menemukan kelemahan dari sebuah novel berkelas dengan rating mencapai bintang lima. Tapi kelemahan itu tetap ada, yaitu daftar glosarium yang terlalu banyak sehingga agak menyulitkan pembaca.

 

Kesimpulan

Sebagai peresensi, berdasarkan dari keunggulan dan kelemahan novel ini, menilai bahwa novel ini baik untuk dijadikan bahan bacaan oleh semua kalangan karena sangat menarik dan banyak pelajaran yang dapat diambil.

 

 

Advertisements

Macam-Macam Majas (Rangkuman)

Majas adalah susunan kata yang terjadi karena perasaan yang hidup dalam hati penulis, sengaja atau tidak, menimbulkan perasaan tertentu dalam hati.

  1. Metafora
  • Ialah majas perbandingan langsung. Yaitu membandingkan sesuatu secara langsung terhadap penggantinya (meta + phoreo berarti perumpamaan, bertukar nama).

 Misalnya :

  • Sang ratu malam telah muncul di ufuk timur. (ratu malam = bulan)
  • Jantung hatinya hilang tanpa berita. (jantung hati = kekasih, kesayangan)
  • Harimau = Raja Hutan
  • Bulan = Dewi Malaru
  1. Personifikasi
  • Ialah majas penjelmaan atau penginsanan. Yaitu melukiskan benda mati, bukan insan, tapi dianggap hidup, bergerak, dan berbuat seperti manusia.

Misalnya :

  • Nyiur melambai memanggil beta ke pantai.
  • Buih laut menjilat pantai.

(Melambai, menjilat, adalah perbuatan manusia)

  1. Asosiasi
  • Ialah majas perbandingan yang menimbulkan asosiasi terhadap keadaan yang sebenarnya.

Misalnya :

  • Mukanya bagai bulan penuh. (Bulan penuh bentuknya bundar. Jadi mukanya bundar.)
  • Telinganya telipok kayu. (Telipok kayu = daun teratai yang layu. Jadi telinganya besar, lebar, dan lembut.)
  1. Alegori
  • Ialah majas perbandingan yang lengkap atau perbandingan yang utuh, untuk melukiskan suatu maksud, dengan pemakaian serangkaian kiasan.

Misalnya :
Pengantin baru yang akan menghadapi kehidupan, sering dikiaskan sebagai pendayung perahu untuk pengantin pria, dan pemegang kemudi untuk pengantin wanita. Kehidupan ini diumpamakan lautan sebagai tempat yang harus dilalui atau diarungi.  Kesulitan yang dihadapi diumpamakan badai. Bila keduanya seia sekata dapat menjalankan perahu dengan baik, dan pemegang kemudi meluruskan jalannya perahu sebaik-baiknya, serta keduanya bekerja sama mengatasi semangat serangan topan sehingga perahu tidak karam, maka selamatlah mereka mencapai pantai yang dituju. Pantai yang dimaksud di sini ialah kehidupan yang bahagia.

  1. Parabel
  • Ialah majas pengiasan yang samar-samar. Yaitu mengiaskan maksud melalui uraian atau cerita secara samar-samar. Pembaca harus menelaah sedalam-dalamnya agar dapat mengerjakan maksud uraian cerita itu.

Misalnya :
Cerita Ramayana, melukiskan maksud bahwa yang benar itu akan terbukti kebenarannya. Cerita Bhagawat Gita mengandung ajaran hidup perlu dipedomani.

  1. Simbolik
  • Ialah majas pelambang yaitu melukiskan suatu benda dengan simbol atau lambang.

Misalnya :

  • Lintah darat harus dibasmi. (Lintah darat adalah lambang atau simbol dari tengkulak.)
  • Jangan percaya kepada buaya darat (Buaya darat adalah simbol atau lambang si hidung belang.)
  1. Tropen
  • Ialah majas kiasan dengan kata atau istilah lain terhadap pekerjaan yang dilakukan seseorang.

Misalnya :

  • Berhari-hari ia terbenam dengan buku. (Kiasannya ialah ia tekun belajar)
  • Pikirannya melambung tinggi. (Kiasannya ialah memikirkan yang hebat-hebat)
  1. Metonimia
  • Ialah majas yang melukiskan arti mengkhusus karena tidak merupakan istilah tertentu dan telah bergeser dari arti semula.

Misalnya :

  • Minggu depan ia tukar cincin. (tukar cincin berarti bertunangan)
  • Ia dibawa ke meja hijau. (ke meja hijau berarti ke pengadilan)
  1. Litotes
  • Ialah majas untuk merendahkan diri dengan menyebutkan keadaan yang berlawanan.

Misalnya :

  • Mampirlah ke pondok kami. (Padahal rumahnya bukan pondok, melainkan rumah bagus.)
  • Makanlah seada-adanya. (Padahal yang dihidangkan makanan yang lezat-lezat.)
  1. Sinekdoke
  • Ialah majas yang menyebutkan sebagian tapi yang dimaksud adalah seluruh bagian (pars pro toto). Atau sebaliknya menyebutkan seluruh bagian tapi yang dimaksud adalah sebagian saja (totem pro parte).

Contoh pars pro toto :

  • Bapak Gubernur membangun Gelanggang Remaja. (Yang membangun adalah semua pekerjanya.)
  • Rudy Hartono memenangkan Thomas Cup. (Yang memenangkan Thomas Cup adalah Tim Thomas Cup kita.)

Contoh totem pro parte :

  • Sekolah kami memenangkan pertandingan itu. (Yang menang sesungguhnya hanya yan bertanding saja.)
  • Warga kota menyambut kedatangannya. (Yang menyambut hanya sebagian warga kota saja, tidak semuanya.)
  1. Eufimisme
  • Ialah majas pelembut atau pemali. Yang pemakaian kata-kata halus sebagai ganti kata-kata yang dianggap kasar, kurang sopan, atau tabu.

Misalnya :

  • Saya akan ke belakang sebentar. (Ke belakang maksudnya ke kamar kecil atau WC.)
  • Pohon itu ada penghuninya. (Penghuni yang dimaksud ialah roh halus.)
  1. Hiperbola
  • Ialah majas yang dipakai untuk melebih-lebihkan sesuatu, atau meluarbiasakan sesuatu.

Misalnya :

  • Kamu ini berkepala batu. (Tidak mungkin kepalanya batu. Yang dimaksud ialah keras kepala.)
  • Harga barang-barang melangit tempo hari. (Tidak mungkin membumbung ke langit. Yang dimaksud adalah sangat mahal.)
  1. Alusio
  • Ialah majas pemakaian karmina atau pantun kilat yang tiidak diselesaikan, untuk menyampaikan maksud yang tersembunyi.

Misalnya :

  • Sudah gaharu cendana pula. (Maksudnya : Sudah tahu bertanya pula.)
  • Kura-kura dalam perahu. (Maksudnya : Pura-pura tidak tahu.)
  1. Antonomasia
  • Ialah majas gelaran atau julukan terhadap seseorang.

Misalnya :

  • Si Kancil membual. (Disebut si Kancil karena badannya kecil.)
  • Pak Pandir termasuk cerita yang menarik. (Disebut Pak Pandir karena ia seorang bapak yang pandir atau bodoh.)
  1. Perifrasis
  • Ialah majas perbandingan dengan jalan mengganti sebuah kata dengan gabungan kata (frase) yang sama arti dengan kata tersebut.

Misalnya :

  • Ketika matahari masuk ke peraduan barulah ia tiba. (Matahari masuk ke peraduan maksudnya waktu senja.)
  • Banyak orang yang tidak dapat menguasai dirinya. (Tidak dapat menguasai diri adalah perifasis kata emosi.)

 

**

Majas Sindiran

  1. Ironi
  • Ialah majas sindiran halus.

Misalnya :

  • Banyak benar uangmu. (Padahal uang orang yang diajak bicara tidak seberapa.)
  • Bagus benar tulisanmu. (Padahal tulisan orang intu tidak seberapa bagus.)
  1. Sinisme
  • Ialah majas sindiran yang tajam.

Misalnya :

  • Sakit telingaku mendengarkan suaramu menyanyi. (Secara jelas diungkapkan bahwa suaranya tidak enak didengar.)
  • Sepanjang hari makan saja kerjamu. (Menyindir secara tajam orang yang sering makan.)
  1. Sarkasme
  • Ialah majas sindiran yang sangat kasar. Sudah bersifat mencemooh bahkan kadang-kadang sudah bersifat kutukan.

Misalnya :

  • Cis! Jijik saya melihat kamu!
  • Mau mampus, mampuslah kau, tidak mau mendengarkan nasihat orang.

***

Majas Pertentangan

  1. Paradoks
  • Ialah majas pertentangan dengan pengungkapan sesuatu seolah-olah berlawanan tetapi ada logikanya.

Misalnya :

  • Di kota yang ramai ia merasa kesepian. (Mungkin ia merasa sedih karena berpisah dengan kekasihnya.)
  • Hartanya banyak tetapi ia miskin. (Mungkin karena ia terlalu hemat.)
  1. Antitesis
  • Ialah majas pertentangan dengan penggunaan kata-kata yang berlawanan arti, untuk menghidupkan pernyataan.

Misalnya :

  • Tua muda, besar kecil, laki-laki perempuan berduyun-duyun datang ke tanah lapang.
  • Hujan panas, siang malam, pagi sore tak henti-hentinya mencari barang yang hilang itu.
  1. Kontradiksio Interminis
  • Ialah majas pertentangan dengan jalan menggunakan sebuah kata yang berlawanan arti dengan kata yang dipakai terdahulu.

Misalnya :

  • Semua buku telah disampul, hanya buku sejarah yang belum.
  • Saudara-saudaranya telah hadir semua, kecuali adiknya.
  1. Anakronisme
  • Ialah majas pertentangan dalam uraian yang tidak sesuai dengan keadaan zamannya.
  • Misalnya dalam cerita Tambera yang mengucapkan kata-kata sastra kepada Wadela. Kata-katanya ini bertaraf Pujangga Baru (tahun 1933). Padahal cerita itu mengisahkan keadaan tahun 1600 di pulau Banda.

***

Majas Penegasan

  1. Pronanisme
  2. Repetisi
  3. Paralelisme
  4. Klimaks
  5. Anti Klimaks
  6. Elipsi
  7. Retolis
  8. Numerasio
  9. Koreksio
  10. Eklamasi
  11. Interupsi
  12. Asidenton
  13. Pratento
  14. Polisidenton