Resensi cerpen “RT 03 RW 22: Jalan Belimbing atau Jalan Asmaradana”

Bahkan Doktor Lulusan Universitas Ternama Amerika Akhirnya Gagal

 

Identitas Cerpen

Judul            : RT 03 RW 22: Jalan Belimbing atau Jalan Asmaradana
Pengarang  : Kuntowijoyo
Dimuat        : Harian Kompas, 4 April 2004

Latar Belakang Pengarang

Prof. Dr. Kuntowijoyo (lahir di Saden, Bantul, Yogyakarta pada 18 September 1943) adalah seorang budayawan, sastrawan, dan sejarawan dari Indonesia. Ia menulis cerita pendek sejak duduk di bangku SMA, kemudian drama, kemudian esai, roman. Ia baru menulis sajak sekaligus dua buah kumpulan Isyarat (1976) dan Suluk Awang Uwung (1976), ketika bermukim di Amerika Serikat untuk mencapai gelar MA dan Ph.D.

Cerpennya dimuat dalam majalah “Horison”, harian “Kompas”, dan terpilih menjadi cerpen terbaik harian “Kompas”, yakni Laki-Laki yang Kawin dengan Peri (1994), Sampan Asmara dan Pistol Perdamaian (1995), serta RT 03 RW 22: Jalan Belimbing atau Jalan Asmaradana (2004). Tulisannya berupa esai juga banyak dimuat di surat kabar.

Sinopsis Cerpen

Selepas tugas belajar, Saya tinggal di Perumnas bagian perumahan dosen, di jalan Belimbing. Saya skeluarga menamakan jalan ini sebagai jalan Asmaradana, yang berarti api asmara.

Sebagai seorang ketua RT, Saya yang berijazah S3 doktor ilmu politik luar negeri, memulai karir dengan sebuah tantangan klasik, yaitu menyelesaikan permasalahan yang dialami warga. Persoalan ini Saya sebut dengan istilah “kasus Pak Dwiyatmo versus Said Tuasikal”. Keduanya tinggal satu kopel, hanya berbatas dinding dari asbes yang menyekat RS yang masih asli itu.

Singkatnya, Pak Dwiyatmo dianggap membuat bising dan menganggu kenyamanan Said Tuasikal yang baru saja menjadi pengantin. Sebab, larut malam malah dia bekerja, memaku. Tidak ada seorang pun warga mengetahui apa sebenarnya yang ia kerjakan.

Sebagai seorang pendatang, Said Tuasikal, atas saran sang istri, tidak menegur secara langsung Dwiyatmo perihal kelakuannya, karena orang Jawa dikenal memiliki sifat jalma limpat, mampu menangkap isyarat. Jadilah Said Tuasikal mencoba bersabar dan menunggu. Namun kesabarannya habis, dan ia pun mengadukan permasalahannya pada Saya.

Saya mendengarkan keluhan-keluhan Said Tuasikal dan memberi beberapa saran yang mungkin bisa membantu menyelesaikan masalah ini, antara lain melapisi dinding-dinding dengan gypsum yang kedap suara. Usul-usul itu rupanya agak sulit dijalankan karena membutuhkan biaya lebih. Namun, Saya tidak punya waktu dan sungkan pula untuk menegur Pak Dwiyatmo karena keanehannya yang sudah menjadi rahasia umum. Pak Dwiyatmo terlalu menutup diri, konon penyebabnya adalah kematian sang istri.

Said Tuasikal semakin sering mengeluh dan Saya memberi usul-usul lain yang tetap tidak berhasil. Sementara Pak Dwiyatmo semakin terlihat misterius dan sulit dipahami.

Walhasil, Saya gagal menyelesaikan permasalahan keduanya. Saya sangat malu dan merasa sangat bodoh. Saya sudah pergi ke empat benua untuk belajar, riset, seminar dan mengajar. Tetapi bahkan tentang tetangga Saya, Saya tidak tahu apa-apa. Manusia itu misteri bagi orang lain.

Tanggapan

Membaca judul cerpen ini saya langsung tertarik, apalagi melihat nama pengarangnya. Karya-karya Kuntowijoyo terbilang sangat fenomenal yang sarat muatan moral. Cerpen ini menceritakan tentang masalah kehidupan yang dianggap klasik, namun mungkin tidak terbayangkan oleh masyarakat. Cerita ini menjadi cerita yang penuh pelajaran tanpa harus menggurui.

Cerpen ini diawali dengan sebuah pernyataan yang begitu selaras dengan logika, “Ada tragic sense of life, ada comic sense of life” lalu dilanjutkan dengan ulasan sederhana yang memperjelas arti pernyataan tersebut. Pembaca diajak menyadari berbagai hitam-putih dalam hidup, yang bertolakbelakang namun selalu hadir berdampingan.

Penulis sekali lagi mengajak pembaca membuka hati dan pikiran, kali ini mengenai pentingnya arti kepemimpinan, bahkan menitikberatkan pada tugas seorang ketua RT, yaitu tertera dalam penggalan berikut “Dia pasti tidak tahu bahwa pekerjaan Ketua RT itu jabatan paling konkret di dunia: mengurus PBB, semprotan DB, kerja bakti membersihkan selokan, menjenguk orang sakit, pidato manten, dan banyak lagi. Presiden bisa diam, Ketua RT tidak.”

Pembaca dibuat takjub dan terkesima dengan realita yang digambarkan penulis dalam cerpennya melalui “Jadilah saya Pak RT. Maka Indonesia punya Ketua RT berijazah S3 dari universitas papan atas di Amerika. Dan Ibu Pertiwi punya pengganti Pak RT, istri saya, lulusan universitas Kota New York.” Selain itu, pada bagian ini penulis juga secara tidak langsung memberi dorongan bagi pembaca agar tidak menutup harapannya sejauh jarak pandangnya saja, melainkan memotivasi bahwa semua orang bisa mencapai titik tertinggi sekalipun.

Melalui ulasan “Sebab, larut malam malah dia bekerja, memaku, membenarkan dipan atau apa begitu, thok-thok-thok. Tak seorang pun tahu apa yang dikerjakannya. Siang hari pintu rumahnya tertutup karena pergi. Malam hari juga tertutup, karena itu saran dokter puskesmas. Maka ia absen di semua kegiatan kampong” penulis membiarkan pembaca bertanya-tanya dalam pikirannya masing-masing. Ada misteri dan teka-teki terselubung yang diselipkan ke dalam cerita.

Pembaca juga diajak menyelami dan bahkan ikut terlibat dalam permasalahan yang terjadi, merasakan berbagai perasaan yang timbul-hilang bergejolak dalam diri. Terkadang menggelikan, sesekali menakutkan, dan tak henti-hentinya dibuat takjub.

Ending cerita yang tidak disangka-sangka kembali menjadi pemicu ketakjuban pembaca, bahwa masalah sederhana tersebut rupanya gagal diselesaikan oleh seorang doktor lulusan universitas ternama Amerika. Betapa merupakan sebuah kegagalan yang berujung penyesalan dan rasa malu yang amat sangat dalam diri tokoh ‘saya’. Disini pembaca dapat mengambil banyak sekali hikmah, diantaranya adalah pendidikan tinggi yang kita capai pun tidak menjamin keberhasilan dalam kehidupan bermasyarakat, karena terkadang masalah yang terjadi bukan hanya menuntut kemampuan otak tetapi juga hati dan keterampilan hidup bermasyarakat.

Keunggulan Cerpen

Penggunaan bahasa yang sederhana menjadikan cerpen ini mudah dipahami. Ide penulis diulas dengan sangat baik, membuat pembaca dapat dengan sendirinya memetik hikmah dan pelajaran yang tertuang dalam cerpen ini tanpa ada unsur menggurui atau mendikte.

Cerpen ini mampu menggugah para pembaca agar memahami adanya kaitan antara berbagai komponen yang kemudian membentuk lingkaran hubungan manusia dengan dirinya, dengan lingkungan sosial, dan juga dengan Tuhan. Disinggung pula pentingnya perasaan malu dan kejujuran yang tulus dari dalam diri, yang kini sedang krisis, bahwa ternyata berdampak positif dan akan membawa individu ke arah yang lebih baik.

Kelemahan Cerpen

Pembaca sulit menemukan hubungan judul cerpen dengan isi. Pengubahan nama jalan Belimbing menjadi Asmaradana pun tidak diketahui secara jelas alasannya.

Adanya kesenjangan yang terlampau jauh, yaitu ketidakmampuan seorang bergelar doktor lulusan universitas ternama Amerika untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat sehari-hari yang sebenarnya dapat ditemukan solusinya secara logika, yaitu apabila ketua RT berperan dengan maksimal terhadap kedua pihak, Said Tuasikal dan Pak Dwiyatmo, bukannya satu pihak saja.

Penulis mencoba melukiskan masalah yang terjadi dengan menggunakan kata “perseteruan”, dimana yang seharusnya terjadi adalah benar-benar perseteruan antara kedua belah pihak. Namun yang diceritakan justru cenderung pada keluhan-keluhan Said Tuasikal, seolah-olah yang bermasalah hanya Said Tuasikal.

Kesimpulan

Sebagai peresensi, berdasarkan dari keunggulan dan kelemahan cerpen ini, menilai bahwa cerpen ini cocok dibaca oleh semua kalangan karena sangat menarik dan banyak pelajaran yang dapat diambil.

Advertisements

Analisa Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Cerpen “RT 03 RW 22: Jalan Belimbing atau Jalan Asmaradana”

Unsur Intrinsik cerpen “RT 03 RW 22: Jalan Belimbing atau Jalan Asmaradana”

 

Tema

Tema cerpen “Rt 03 Rw 22: Jalan Belimbing atau Jalan Asmaradana” adalah Kegagalan dan Penyesalan. Tokoh ‘saya’ sebagai tokoh utama dalam cerpen tersebut merasa gagal menjadi ketua RT karena tidak bisa menyelesaikan permasalahan kedua warganya, yaitu Bapak Dwiyatmo dan Bapak Said Tuasikal. Kegagalan itu membawa penyesalan dalam diri tokoh ‘saya’, mengingat betapa panjang perjalanan yang akhirnya menjadikan dirinya sebagai seorang doktor lulusan universitas papan atas di Amerika, namun bahkan menjadi ketua RT pun ia gagal.

Plot (Alur)

Cerpen “RT 03 RW 22: Jalan Belimbing atau Jalan Asmaradana” beralur maju. Pada awal cerpen, tokoh ‘saya’ menceritakan tentang kedua temannya yang mempunyai sifat bertolakbelakang satu sama lain. Kemudian diceritakan mengenai peristiwa yang hampir serupa namun berbeda. Tokoh ‘saya’ lalu bercerita secara runtut dari awal ia terpilih menjadi ketua RT, menghadapi permasalahan kedua warganya yang akhirnya gagal ia selesaikan, hingga penyesalannya.

Tokoh dan Penokohan

Tokoh yang terlibat dalam cerpen “RT 03 RW 22: Jalan Belimbing atau Jalan Asmaradana” yaitu tokoh saya, Nurhasan, Kaelani, pemondok, seorang warga, Ibu Pertiwi, Pak Dwiyatmo, Pak Said Tuasikal, Istri Pak Said Tuasikal.

Saya

  • Pandai, yaitu terdapat dalam kalimat “Sebagai orang paling terpelajar, saya didaulat teman-teman jadi Ketua RT, menggantikan Pak Trono yang pindah.
  • Suka bercanda, yaitu terdapat dalam kalimat “Dan anak Mas Said jadi Jambon. Itu warna pink, warna cinta. Jadi ada Jadel, ada Jamin, ada Jambon.
  • Tidak bertanggungjawab, yaitu terdapat dalam kalimat “Ya pindah rumah, to. Kok sulit-sulit.
  • Tidak tegas, yaitu terdapat dalam kalimat “Saya mau menegur Pak Dwiyatmo, tetapi rasanya tidak pas. Menyuruh keduanya berunding untuk menyelesaikan perseteruan diam-diam itu, jangan-jangan malah jadi perseteruan terbuka. Jadi saya hanya bagaimana-bagaimana sendiri.

    Nurhasan

  • Suka mengeluh, yaitu terdapat dalam kalimat “Lha betul to, Perumnas itu ya begini. Tinggi setidaknya empat meter supaya ruangan sejuk.
  • Berprasangka buruk, yaitu terdapat dalam kalimat ”Melihat ada rumah mewah di Perumnas, dia akan bilang, Lihat orang-orang kaya mendepak keluar orang-orang miskin.

    Kaelani

  • Suka bercanda, yaitu terdapat dalam kalimat “Pemborong itu masuk sorga tanpa dihisap. Apa sebab? Karena ia suka berbohong untuk menyenangkan orang.”
  • Tidak bertanggungajawab, yaitu terdapat dalam kalimat “Ya, kalau rusak diproyekkan. Semua senang, DPRD, kepala dinas, dan tentu saja pembohongnya, eh, pemborongnya.

    Pemondok

  • Pandai, yaitu terdapat dalam kalimat “Dia sedang sekolah S2.”
  • Tidak bertanggungjawab, yatu terdapat dalam kalimat “Bapak tidak usah repot. Ketua RT itu hanya kedudukan simbolis.

    Seorang Warga

  • Bersolidaritas, yaitu terdapat dalam kalimat “Jangan khawatir, urusan RT adalah urusan bersama.”

    Ibu Pertiwi

  • Pandai, yaitu terdapat dalam kalimat “Dan Ibu Pertiwi punya pengganti Pak RT, istri saya, lulusan universitas Kota New York.”
  • Bertanggungjawab, yaitu terdapat dalam kalimat “Sekali-sekali rapat bulanan RT saya pimpin, sekali-sekali istri saya.

    Pak Dwiyatmo

  • Misterius, yaitu terdapat dalam kalimat “Tak seorang pun tahu apa yang dikerjakannya.”
  • Pasif, yaitu terdapat dalam kalimat “Maka ia absen di semua kegiatan kampung.”
  • Tidak qana’ah, yaitu terdapat dalam kalimat “Sebagian orang masjid mengatakan ia tidak qana-ah, artinya tidak ikhlas menerima takdir Tuhan, itu sebabnya ia protes kepada-Nya.
  • Egois dan pengganggu, yaitu terdapat dalam kalimat “Sebab, larut malam malah dia bekerja, memaku, membenarkan dipan atau apa begitu, thok-thok-thok.”

    Pak Said Tuasikal

  • Pandai, yaitu terdapat dalam kalimat “Said berasal dari Ambon, dibiayai APBD untuk sekolah.”
  • Baik, yaitu terdapat dalam kalimat “Pasangan Said orangnya baik.”
  • Aktif, yaitu terdapat dalam kalimat “Said ikut ronda, dan istrinya ikut arisan.”
  • Berprasangka buruk, yaitu terdapat dalam kalimat “Orang sebelah itu pasti punya kelainan, Pak.
  • Tidak kaya, jujur, dan apa adanya, yaitu terdapat dalam kalimat “Ala, Bapak ini bagaimana. Kalau beta kaya pasti sudah menyewa rumah di luar Perumnas.

    Istri Pak Said Tuasikal

  • Baik, yaitu terdapat dalam kalimat “Pasangan Said orangnya baik.
  • Aktif, yaitu terdapat dalam kalimat “Said ikut ronda, dan istrinya ikut arisan.
  • Berhati lembut, yaitu terdapat dalam kalimat “Maaf, kalau kata-kata suami saya menyinggung Bapak.”

Sudut Pandang

Sudut pandang yang digunakan penulis dalam cerpen “RT 03 RW 22: Jalan Belimbing atau Jalan Asmaradana” adalah sudut pandang orang pertama pelaku utama, ditandai dengan penggunaan kata ganti ‘saya’.

Latar (Setting)

  • Latar Tempat

Di Jalan Belimbing atau Jalan Asmaradana, di Perumnas, yaitu terdapat dalam kalimat “Akan tetapi, keduanya sangat lain dengan kasus Pak Dwiyatmo versus Said Tuasikal di Jalan Belimbing (keluarga kami menyebutnya sebagai Jalan “Asmaradana”. Asmara artinya cinta, dana singkatan dari dahana artinya api).” Dan “Mohon diketahui bahwa selepas tugas belajar saya tinggal di Perumnas, bagian perumahan dosen. “

  • Latar Waktu

Pagi hari, larut malam, siang hari, dan malam hari, yaitu terdapat dalam kalimat “Pagi hari dia akan terlihat membawa cangkul.” Dan “Sebab, larut malam malah dia bekerja, memaku, membenarkan dipan atau apa begitu, thok-thok-thok.” Serta “Siang hari pintu rumahnya tertutup karena pergi. Malam hari juga tertutup, karena itu saran dokter puskesmas.”

  • Latar Suasana

Bising, ditandai dalam kalimat “Singkatnya, Pak Dwiyatmo dianggap membuat bising. “ Menakutkan, ditandai dalam kalimat, “Saya juga menghindar setiap mau ketemu orang yang saya persangkakan dari Ambon, nyata atau khayalan, hidup atau mati, di mana saja.” Bersatu, ditandai dalam kalimat “Gotong-royong kita sangat bagus.

Amanat

Dalam cerpen “RT 03 RW 22: Jalan Belimbing atau Jalan Asmaradana”, penulis ingin menyampaikan beberapa pesan, yaitu sebagai berikut :

  1. Dalam memandang kehidupan ini, sebaiknya tidak mengandaikan hidup seperti lubang hitam yang penuh penderitaan, juga tidak menyepelekan kehidupan.
  2. Bangunlah hubungan yang baik dengan semua orang, terutama dengan orang-orang di sekitar kita.
  3. Jika diberi suatu kepercayaan, harus menjalankannya dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggungjawab.
  4. Apabila tidak bisa menyelesaikan suatu masalah sendirian, mintalah bantuan orang lain. Menyelesaikan masalah bersama akan lebih baik.
  5. Jangan menyombongkan diri dengan apa yang kita miliki.
  6. Ilmu yang kita miliki harus diamalkan agar berguna bagi banyak orang.

Unsur Ekstrinsik cerpen “RT 03 RW 22: Jalan Belimbing atau Jalan Asmaradana”

  1. Nilai Sosial, yaitu nilai-nilai yang berkenaan dengan tata pergaulan antara individu dalam masyarakat

    “Pasangan Said orangnya baik. Said ikut ronda, dan istrinya ikut arisan. Dari poskamling dan arisan itulah warga tahu keluhan-keluhan mereka tentang Pak Dwiyatmo yang secara tidak sengaja dikatakan.”

    Nilai sosial yang terdapat dalam penggalan cerita diatas adalah masyarakat yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan di lingkungan setempat dan juga masyarakat yang transparan, saling terbuka sehingga masyarakat bisa saling mengenal dan tanggap terhadap masalah yang ada.

  1. Nilai Pendidikan, yaitu nilai-nilai yang terdapat dalam cerita yang berhubungan dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan.

    “Semua setuju. Jadilah saya Pak RT. Maka Indonesia punya Ketua RT berijazah S3 dari universitas papan atas di Amerika. Dan Ibu Pertiwi punya pengganti Pak RT, istri saya, lulusan universitas Kota New York. Sekali-sekali rapat bulanan RT saya pimpin, sekali-sekali istri saya.”

    Nilai pendidikan yang terkandung dalam penggalan cerita diatas yaitu ketua RT yang bergelar doktor lulusan universitas papan atas di Amerika dan wakil ketua RT yang adalah lulusan universitas Kota New York.

  1. Nilai Moral, yaitu nilai-nilai dalam cerita yang berkaitan dengan akhlak/peranggai atau etika.

    “Lain lagi teman saya Kaelani yang memandang hidup sebagai komedi, sebuah lelucon.”

    Nilai moral yang terdapat pada kalimat diatas adalah nilai moral yang kurang baik, yaitu memandang sepele terhadap kehidupan. Orang yang berperangai seperti ini umumnya tidak bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada.

  1. Nilai Budaya, yaitu nilai-nilai dalam cerita yang berkaitan dengan budaya yang terdapat di suatu daerah/tempat.

    ”Istrinya melarang dia. Katanya, “Orang Jawa itu jalma limpat, dapat menangkap isyarat.”

    Nilai budaya yang terdapat dalam penggalan cerita diatas yaitu sifat suku Jawa yang biasanya jalma limpat, yaitu perasa dan peka terhadap sekeliling.

  1. Nilai Agama, yaitu nilai-nilai dalam cerita yang berkaitan dengan aturan/ajaran yang bersumber dari agama tertentu.

    “Sebagian orang masjid mengatakan ia tidak qana-ah, artinya tidak ikhlas menerima takdir Tuhan, itu sebabnya ia protes kepada-Nya (Allahumaghfirlahu, semoga Allah mengampuninya. Semoga dipanjangkan umurnya sehingga ia sempat bertaubat).”

    Nilai agama yang terkandung dalam penggalan cerita diatas adalah nasihat-menasihati dalam kebaikan dan saling mendoakan agar mendapat berkah Allah SWT.

  1. Nilai Ekonomi, yaitu nilai-nilai dalam cerita yang berkaitan dengan kondisi ekonomi dan keuangan masyarakat suatu wilayah.

    “Ala, Bapak ini bagaimana. Kalau beta kaya pasti sudah menyewa rumah di luar Perumnas.”

    Nilai ekonomi yang terdapat dalam penggalan cerita diatas yaitu keadaan ekonomi masyarakat yang pas-pasan sehingga hanya mampu menyewa rumah di perumnas yang beratap dan berdinding asbes.

 

JADI WEASLEY SEMALAM

          Aku termenung di tengah luasnya lapangan rumput, memandang bangunan tua di depanku. Bangunan ini terlihat usang, namun tetap anggun dengan gaya Eropa kuno. Samar-samar kulihat tiga jelmaan tongkat peniup gelembung sabun dalam ukuran raksasa jauh di sebelah timur bangunan. Kualihkan pandanganku pada pohon besar yang bergerak dengan dahsyatnya oleh semilir angin senja. Tidak! Bukan oleh semilir angin senja, tapi oleh seekor burung hantu. Tampaknya pohon itu tengah bermain dengan burung hantu yang singgah sebentar demi melepas lelah setelah terbang seharian itu. Semua ini rasanya tidak asing bagiku.

tumblr_mr54415dOi1sdne9ro2_r2_500

          Jeritan bagai lengkingan kuda mengamuk di belakangku membuatku tersentak. Kuputuskan untuk menoleh, dan aku yakin mengenal orang yang menjerit tadi. Dia Ronald Weasley, dan dua orang yang mengapitnya, Harry Potter dan Hermione Granger. Mendadak aku ingat semuanya. Bangunan tua itu tak lain adalah Hogwarts, sekolah sihir ternama di dunia. Tiga tiang itu bukan jelamaan tongkat peniup gelembung sabun, melainkan gawang Quidditch. Pohon besar itu pasti Dedalu Perkasa. Dan, burung hantu tadi bukan sedang bermain dengan pohon Dedalu Perkasa, bukan “bermain” tapi “dimangsa”. Burung hantu itu Errol, burung hantu Ron. Oh, pantas saja Ron menjerit begitu merdunya. Tidak dapat dipercaya! Hermione memanggilku dan mengajakku bergabung dengannya menuju Hogwarts. Bahkan mereka tak memanggilku “Muggle” saja aku sudah sangat heran. Kuhilangkan semua keherananku dan aku mengikuti langkah kaki trio Gryffindor yang sudah makin dekat dengan pintu kastil yang terbuka lebar itu.

          Bangunan ini lebih megah, lebih luas, dan tentu saja lebih ajaib dari yang kukira. Tiba-tiba saja aku merasa sangat butuh “Peta Perampok” agar tidak tersesat dan tidak ditelan kastil tua ini, mengingat luasnya yang tiada terkira. Tidak heran, pendiri bangunan ini, Godric Gryffindor, Helga Hufflepuff, Rowena Ravenclaw, dan Salazar Slytherin adalah penyihir terhebat di masanya. Ingatanku melayang sampai ke sejarah Hogwarts, seakan Madam Bathilda Baghsot, sang pengarang buku-buku Sejarah Sihir itu berada di sampingku dan menguraikan seluruh isi buku-bukunya.

          Setelah melewati beberapa tangga yang bergerak berhubungan satu sama lain, kami menaiki tangga spiral yang membawa kami dalam menara ini, menara Gryffindor.

          Begitu banyak anak-anak, baik yang seusiaku, yang lebih muda dan yang lebih tua dariku. Mereka, bukan! Kami semua berpakaian aneh. Bahkan aku baru menyadari bahwa aku mengenakan semacam jubah hitam panjang dengan topi kerucut menggantung di jubah belakangku. Lambang Gryffindor melekat di jubahku. Aku semakin heran saat mengetahui bahwa aku sekamar dengan Hermione. Dan kami rupanya cukup akrab.

          “Oh, Flaurnd. Saudara kembarmu pasti sangat sedih karena kehilangan Errolnya. Hogwarts pasti lupa memberi makan Dedalu Perkasa.” Desah Hermione, turut bersedih atas kejadian yang menimpa Ron ini. Aku terkesima, Ron saudara kembarku? Baguslah Hermione memanggilku Flaurnd. Itu memang nama samaranku.

          “Hermione, apa dalam buku-buku yang pernah kau baca tidak tercantum bahwa Hogwarts tidak memberi makan Dedalu Perkasa?” Kataku, meralat pernyataan Hermione sebelumnya.

          “Mungkin aku melewatkan bagian itu. Pohon itu tampaknya terganggu penglihatannya sehingga tak bisa membedakan mana mangsa, mana sahabat.” Hermione mengeluarkan argumen barunya.

          “Yeah, seharusnya ia sadar bahwa Errol sedang tersesat karena kecerobohannya, lalu menawarkan Errol sedikit hidangan. Astaga! Dia mungkin bahkan tidak punya mata. Aku tidak ingat pernah melihat mata Dedalu Perkasa.” Komentarku yang rupanya cukup pedas, sehingga Hermione memelototiku.

          “Oh, tidak! Jangan memandangiku seperti itu! Baiklah, kuberitahu, Errol adalah burung hantu yang sangat ceroboh dan mungkin tiap helai bulunya mengundang malapetaka baginya. Menurutku, kematian dapat menyudahi segala penderitaannya. Sudahlah, Dad pasti akan membelikan burung hantu baru untuknya.” Aku berusaha meyakinkan Hermione.

          “Mungkin kau benar.” Kata Hermione pasrah.

          “Sekarang cepat bersiap, pesta penyeleksian asrama akan segera dilakukan. Tentunya kau tak ingin melewatkan kesempatan ini.” Hermione mengangguk, menyetujui usulku.

          Setelah siap, kami segera menuju Aula Besar. Ron dan Harry sudah duduk manis disana, dan mereka menyiapkan tempat untuk kami. Sementara itu, Profesor McGonagall bersama Topi Seleksi memasuki Aula Besar.

          “Flaurnd, Ginny, Fred, George, apakah kalian yakin Dad akan membelikanku burung hantu pengganti Errol?” Tanya Ron, suaranya terdengar gelisah dan putus asa.tumblr_mzuc8agHy71qboijko1_500

          “Mustahil! Berharap saja Percy, Bill, atau Charlie, akan berbaik hati meminjamkan burung hantunya kepadamu.” Ucap Fred dan George hampir bersamaan.

          “Yah, inilah takdir, Ron! Seperti kata-katamu, jika kau memiliki 7 saudara dan keadaan keluargamu bisa dibilang cukup terpuruk, kau tak akan memiliki barang baru!” Ginny memberi pendapatnya, sambil meniru gaya bicara Ron. Fred dan George tertawa bersama dan mengerling Kau-Hebat ke arah Ginny.

          “Mengapa tidak? Dad pasti mengerti kau butuh peliharaan seperti burung hantu, dan menurutku Errol tidak layak disebut burung hantu. Anggap saja selama ini kau tak pernah punya burung hantu. Kau boleh pakai burung hantuku, Wedlucky, kapanpun kau mau.” Pendapatku merubah raut muka Ron. Kini, ia agak cerah. Aku senang dengan perubahan itu, menurutku, Fred, George, dan Ginny, terlalu berlebihan.

          “Dan aku kira, pendapat Flaurnd yang paling tepat. Mungkin karena kalian adalah saudara kembar. Bagaimana menurutmu, Harry?” Hermione menambahkan.

          “Kurasa pendapat Flaurnd ada benarnya.” Harry memihak padaku juga.

          “Hey Ron! Maukah kau kubelikan burung hantu baru? Setidaknya kau tidak perlu menyusahkan Ayahmu. Aku yakin, Arthur Weasley perlu menjual rumahnya untuk membelikanmu pengganti Errol.” Celetuk Draco Malfoy, disambut gelak tawa Crabe dan Goyle. Wajah Ron merah padam, begitupun Ginny, Fred, George, dan aku.

         “Terima kasih atas kebaikanmu, Malfoy. Tapi, sebaiknya, tabunganmu kau gunakan baik-baik. Kau lebih memerlukannya, mungkin untuk membeli kuali baru.” Kata-kata itu mengalir begitu saja dari mulutku. Kini keadaan berbalik. Malfoy menatapku tajam, lalu menyeringai penuh sindiran.

          “Oh, sudahlah! Kau seperti tak kenal siapa Malfoy! Tahun ini, murid baru di Hogwarts sebagian besar berasal dari Asia.” Hermione mengalihkan topik. Senyum jahil di wajah Fred dan George mengembang.

            “Wow!” Seru keduanya kompak.

            “Fred!” Panggil George.

            “George!” Panggil Fred.

            “Buat mereka tahu siapa kita sebenarnya!” George melanjutkan.

     “Hapuskan penasaran mereka, eksperimen 9.985 sebelum kita meninggalkan Hogwarts!” Tambah Fred.

            “Mari kita beraksi!” Keduanya kompak mengakhiri.

      Fred dan George berjalan menghampiri beberapa siswa baru bertampang Asia yang masuk asrama Gryffindor. Keduanya menghentikan langkah tepat di depan seorang siswa berkacamata bulat seperti Harry Potter, ia memakai jubah yang sangat besar. Fred mengedipkan mata kepada George, kemudian merogoh kantongnya.

         “Hai, kau siswa baru di Hogwarts? Dan, lihatlah! Wajahmu sangat mirip dengan calon adik ipar kami, Harry Potter, dengan kacamata itu.” Sapa Fred kepada siswa baru tersebut.

         “Ya. Namaku Euan Abercrombie. Aku sangat mengidolakan Harry Potter, kau tahu! Karena itulah aku rela mengenakan pakaian lusuh Ayahku ini, agar uangnya dapat dibelikan kacamata seperti milik Harry Potter.” Jelas Euan bangga.

          “Wah, kalau begitu kebetulan! Kau akan kami kenalkan dengan Harry, janji! Asalkan kau tidak menolak permen-petir kami. Dan, perlu kau tahu, permen ini dapat membuatmu memiliki tanda sambaran petir seperti Harry. Kau tertarik?” Tawar George sambil menyodorkan sekotak permen.

            “Oh, tentu saja aku ingin membeli semuanya. Namun, seperti yang kukatakan, aku tidak punya cukup banyak uang.” Ucap Euan, menunduk sedih.

            “Tidak usah khawatir.” Hibur Fred.

            “Oh, kita berasal dari latar belakang keluarga yang sama.” George mengambil alih.

            “Jangan merendah, George! Ayolah, ini gratis, kawan!” Potong Fred.

        “Baiklah, aku tidak mampu menolaknya. Permen ini terlalu menggoda.” Euan mengambil satu, kemudian tanpa ragu-ragu memasukkan permen itu ke mulutnya.

            “Lihatlah apa yang terjadi George!” Ajak Fred.

        Seketika itu juga, rambut Euan terbagi 4 bagian, dan tiap bagian membentuk sambaran petir. Begitupun jari-jarinya, tangannya, kakinya, dan di segala bagian tubuhnya, terdapat tanda sambaran petir.

        “Wow, kau punya banyak sekali tanda sambaran petir. Kau jauh terlihat seperti Harry, sekarang.” Fred tersenyum puas memandang kelinci percobaannya.

         “Rupanya kita salah meracik ramuannya. Lihatlah tangannya, rambut, dan kakinya.” Ujar George kepada Fred.

      “Aaaaaaaaaaaaa! Hentikan lelucon gila ini! Ini mengerikan!” Euan memekik keras.

         “Weasley!” Bentak Profesor Minerva McGonaggal.

      “Baiklah, professor. Kami akan menunggumu di ruanganmu.” Ucap George dan Fred bersamaan.

         “Baguslah kalau kalian mengerti! Aku tidak tahu lagi bagaimana cara mengatasi kenakalan kalian! Pergilah, dan tunggu aku disana!” Profesor McGonaggal berkata, dari nadanya, ia terlihat marah besar. Bagaimana tidak? Hari bersejarah ini dicemari oleh sang kembar I Weasley.

           Acara penyeleksian siswa baru berlanjut lagi. Kali ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan, mungkin karena Fred dan George sudah diamankan. Beberapa lama kemudian, acara selesai. Dean Thomas, yang kini menjabat sebagai Prefek Gryffindor menggantikan Percy Weasley, memimpin barisan kelas satu menuju Ruang Rekreasi Gryffindor. Dean penerus yang baik, setidaknya lencana prefeknya tidak terlalu terlihat mengkilap, artinya ia tidak membersihkan lencana prefeknya setiap hari.

          “Flaurnd, saudara kembarmu sungguh gila!” Seru Hermione diantara bisingnya ruang Gryffindor.

        “Apa aku maksudmu? Baiklah, aku gila. Dan secepatnya aku akan segera menyusul kedua orangtua Neville di St. Mungo.” Jawab Ron, tersinggung. Ron memang sangat mudah tersinggung. Hermione terpaku, menyesal akan kata-katanya.

      “Aku yakin bukan kau maksud Hermione. Fred dan George juga saudara kembar kita, kuharap kau tidak berniat melupakan kenyataan itu. Dan kau tahu tadi apa yang mereka lakukan?” Aku menyanggah Ron, sekaligus menghibur Hermione.

       “Ya. Permen-petir, eksperimen 9.985 sebelum meninggalkan Hogwarts. Sudah kukatakan, mereka berdua gila.” Sahut Ron, tidak marah lagi.

            “Mereka lebih cocok berada di St. Mungo dibanding kau, Ron.” Ucap Hermione.

            “Ya, kau benar Hermione.” Ron membenarkan.

         “Aku mau ke kamar. Bye Ron, Bye Hermione. Selamat bersenang-senang!” Aku sangat letih dan ingin istirahat. Kunaiki tangga menuju kamarku, namun kemunculan Peeves yang tiba-tiba dan penuh kejutan benar-benar mengagetkanku. Aku terdorong ke belakang, dan aku merasa ringan sejenak. Kemudian, tubuhku membentur “sesuatu” seperti lantai, dan aku membuka mataku.

        Aku terbelalak. Tidak mempercayai penglihatanku. Kukucek mata demi memperjelas semuanya. Dan, semua tetap tampak sama. Ini kamarku, bukan Ruang Rekreasi Gryffindor. Rupanya semua hanya mimpi. Kualihkan pandanganku menuju jam dinding yang terpajang di kamarku, lalu berkata, “Celaka, aku terlambat!”.