JADI WEASLEY SEMALAM

          Aku termenung di tengah luasnya lapangan rumput, memandang bangunan tua di depanku. Bangunan ini terlihat usang, namun tetap anggun dengan gaya Eropa kuno. Samar-samar kulihat tiga jelmaan tongkat peniup gelembung sabun dalam ukuran raksasa jauh di sebelah timur bangunan. Kualihkan pandanganku pada pohon besar yang bergerak dengan dahsyatnya oleh semilir angin senja. Tidak! Bukan oleh semilir angin senja, tapi oleh seekor burung hantu. Tampaknya pohon itu tengah bermain dengan burung hantu yang singgah sebentar demi melepas lelah setelah terbang seharian itu. Semua ini rasanya tidak asing bagiku.

tumblr_mr54415dOi1sdne9ro2_r2_500

          Jeritan bagai lengkingan kuda mengamuk di belakangku membuatku tersentak. Kuputuskan untuk menoleh, dan aku yakin mengenal orang yang menjerit tadi. Dia Ronald Weasley, dan dua orang yang mengapitnya, Harry Potter dan Hermione Granger. Mendadak aku ingat semuanya. Bangunan tua itu tak lain adalah Hogwarts, sekolah sihir ternama di dunia. Tiga tiang itu bukan jelamaan tongkat peniup gelembung sabun, melainkan gawang Quidditch. Pohon besar itu pasti Dedalu Perkasa. Dan, burung hantu tadi bukan sedang bermain dengan pohon Dedalu Perkasa, bukan “bermain” tapi “dimangsa”. Burung hantu itu Errol, burung hantu Ron. Oh, pantas saja Ron menjerit begitu merdunya. Tidak dapat dipercaya! Hermione memanggilku dan mengajakku bergabung dengannya menuju Hogwarts. Bahkan mereka tak memanggilku “Muggle” saja aku sudah sangat heran. Kuhilangkan semua keherananku dan aku mengikuti langkah kaki trio Gryffindor yang sudah makin dekat dengan pintu kastil yang terbuka lebar itu.

          Bangunan ini lebih megah, lebih luas, dan tentu saja lebih ajaib dari yang kukira. Tiba-tiba saja aku merasa sangat butuh “Peta Perampok” agar tidak tersesat dan tidak ditelan kastil tua ini, mengingat luasnya yang tiada terkira. Tidak heran, pendiri bangunan ini, Godric Gryffindor, Helga Hufflepuff, Rowena Ravenclaw, dan Salazar Slytherin adalah penyihir terhebat di masanya. Ingatanku melayang sampai ke sejarah Hogwarts, seakan Madam Bathilda Baghsot, sang pengarang buku-buku Sejarah Sihir itu berada di sampingku dan menguraikan seluruh isi buku-bukunya.

          Setelah melewati beberapa tangga yang bergerak berhubungan satu sama lain, kami menaiki tangga spiral yang membawa kami dalam menara ini, menara Gryffindor.

          Begitu banyak anak-anak, baik yang seusiaku, yang lebih muda dan yang lebih tua dariku. Mereka, bukan! Kami semua berpakaian aneh. Bahkan aku baru menyadari bahwa aku mengenakan semacam jubah hitam panjang dengan topi kerucut menggantung di jubah belakangku. Lambang Gryffindor melekat di jubahku. Aku semakin heran saat mengetahui bahwa aku sekamar dengan Hermione. Dan kami rupanya cukup akrab.

          “Oh, Flaurnd. Saudara kembarmu pasti sangat sedih karena kehilangan Errolnya. Hogwarts pasti lupa memberi makan Dedalu Perkasa.” Desah Hermione, turut bersedih atas kejadian yang menimpa Ron ini. Aku terkesima, Ron saudara kembarku? Baguslah Hermione memanggilku Flaurnd. Itu memang nama samaranku.

          “Hermione, apa dalam buku-buku yang pernah kau baca tidak tercantum bahwa Hogwarts tidak memberi makan Dedalu Perkasa?” Kataku, meralat pernyataan Hermione sebelumnya.

          “Mungkin aku melewatkan bagian itu. Pohon itu tampaknya terganggu penglihatannya sehingga tak bisa membedakan mana mangsa, mana sahabat.” Hermione mengeluarkan argumen barunya.

          “Yeah, seharusnya ia sadar bahwa Errol sedang tersesat karena kecerobohannya, lalu menawarkan Errol sedikit hidangan. Astaga! Dia mungkin bahkan tidak punya mata. Aku tidak ingat pernah melihat mata Dedalu Perkasa.” Komentarku yang rupanya cukup pedas, sehingga Hermione memelototiku.

          “Oh, tidak! Jangan memandangiku seperti itu! Baiklah, kuberitahu, Errol adalah burung hantu yang sangat ceroboh dan mungkin tiap helai bulunya mengundang malapetaka baginya. Menurutku, kematian dapat menyudahi segala penderitaannya. Sudahlah, Dad pasti akan membelikan burung hantu baru untuknya.” Aku berusaha meyakinkan Hermione.

          “Mungkin kau benar.” Kata Hermione pasrah.

          “Sekarang cepat bersiap, pesta penyeleksian asrama akan segera dilakukan. Tentunya kau tak ingin melewatkan kesempatan ini.” Hermione mengangguk, menyetujui usulku.

          Setelah siap, kami segera menuju Aula Besar. Ron dan Harry sudah duduk manis disana, dan mereka menyiapkan tempat untuk kami. Sementara itu, Profesor McGonagall bersama Topi Seleksi memasuki Aula Besar.

          “Flaurnd, Ginny, Fred, George, apakah kalian yakin Dad akan membelikanku burung hantu pengganti Errol?” Tanya Ron, suaranya terdengar gelisah dan putus asa.tumblr_mzuc8agHy71qboijko1_500

          “Mustahil! Berharap saja Percy, Bill, atau Charlie, akan berbaik hati meminjamkan burung hantunya kepadamu.” Ucap Fred dan George hampir bersamaan.

          “Yah, inilah takdir, Ron! Seperti kata-katamu, jika kau memiliki 7 saudara dan keadaan keluargamu bisa dibilang cukup terpuruk, kau tak akan memiliki barang baru!” Ginny memberi pendapatnya, sambil meniru gaya bicara Ron. Fred dan George tertawa bersama dan mengerling Kau-Hebat ke arah Ginny.

          “Mengapa tidak? Dad pasti mengerti kau butuh peliharaan seperti burung hantu, dan menurutku Errol tidak layak disebut burung hantu. Anggap saja selama ini kau tak pernah punya burung hantu. Kau boleh pakai burung hantuku, Wedlucky, kapanpun kau mau.” Pendapatku merubah raut muka Ron. Kini, ia agak cerah. Aku senang dengan perubahan itu, menurutku, Fred, George, dan Ginny, terlalu berlebihan.

          “Dan aku kira, pendapat Flaurnd yang paling tepat. Mungkin karena kalian adalah saudara kembar. Bagaimana menurutmu, Harry?” Hermione menambahkan.

          “Kurasa pendapat Flaurnd ada benarnya.” Harry memihak padaku juga.

          “Hey Ron! Maukah kau kubelikan burung hantu baru? Setidaknya kau tidak perlu menyusahkan Ayahmu. Aku yakin, Arthur Weasley perlu menjual rumahnya untuk membelikanmu pengganti Errol.” Celetuk Draco Malfoy, disambut gelak tawa Crabe dan Goyle. Wajah Ron merah padam, begitupun Ginny, Fred, George, dan aku.

         “Terima kasih atas kebaikanmu, Malfoy. Tapi, sebaiknya, tabunganmu kau gunakan baik-baik. Kau lebih memerlukannya, mungkin untuk membeli kuali baru.” Kata-kata itu mengalir begitu saja dari mulutku. Kini keadaan berbalik. Malfoy menatapku tajam, lalu menyeringai penuh sindiran.

          “Oh, sudahlah! Kau seperti tak kenal siapa Malfoy! Tahun ini, murid baru di Hogwarts sebagian besar berasal dari Asia.” Hermione mengalihkan topik. Senyum jahil di wajah Fred dan George mengembang.

            “Wow!” Seru keduanya kompak.

            “Fred!” Panggil George.

            “George!” Panggil Fred.

            “Buat mereka tahu siapa kita sebenarnya!” George melanjutkan.

     “Hapuskan penasaran mereka, eksperimen 9.985 sebelum kita meninggalkan Hogwarts!” Tambah Fred.

            “Mari kita beraksi!” Keduanya kompak mengakhiri.

      Fred dan George berjalan menghampiri beberapa siswa baru bertampang Asia yang masuk asrama Gryffindor. Keduanya menghentikan langkah tepat di depan seorang siswa berkacamata bulat seperti Harry Potter, ia memakai jubah yang sangat besar. Fred mengedipkan mata kepada George, kemudian merogoh kantongnya.

         “Hai, kau siswa baru di Hogwarts? Dan, lihatlah! Wajahmu sangat mirip dengan calon adik ipar kami, Harry Potter, dengan kacamata itu.” Sapa Fred kepada siswa baru tersebut.

         “Ya. Namaku Euan Abercrombie. Aku sangat mengidolakan Harry Potter, kau tahu! Karena itulah aku rela mengenakan pakaian lusuh Ayahku ini, agar uangnya dapat dibelikan kacamata seperti milik Harry Potter.” Jelas Euan bangga.

          “Wah, kalau begitu kebetulan! Kau akan kami kenalkan dengan Harry, janji! Asalkan kau tidak menolak permen-petir kami. Dan, perlu kau tahu, permen ini dapat membuatmu memiliki tanda sambaran petir seperti Harry. Kau tertarik?” Tawar George sambil menyodorkan sekotak permen.

            “Oh, tentu saja aku ingin membeli semuanya. Namun, seperti yang kukatakan, aku tidak punya cukup banyak uang.” Ucap Euan, menunduk sedih.

            “Tidak usah khawatir.” Hibur Fred.

            “Oh, kita berasal dari latar belakang keluarga yang sama.” George mengambil alih.

            “Jangan merendah, George! Ayolah, ini gratis, kawan!” Potong Fred.

        “Baiklah, aku tidak mampu menolaknya. Permen ini terlalu menggoda.” Euan mengambil satu, kemudian tanpa ragu-ragu memasukkan permen itu ke mulutnya.

            “Lihatlah apa yang terjadi George!” Ajak Fred.

        Seketika itu juga, rambut Euan terbagi 4 bagian, dan tiap bagian membentuk sambaran petir. Begitupun jari-jarinya, tangannya, kakinya, dan di segala bagian tubuhnya, terdapat tanda sambaran petir.

        “Wow, kau punya banyak sekali tanda sambaran petir. Kau jauh terlihat seperti Harry, sekarang.” Fred tersenyum puas memandang kelinci percobaannya.

         “Rupanya kita salah meracik ramuannya. Lihatlah tangannya, rambut, dan kakinya.” Ujar George kepada Fred.

      “Aaaaaaaaaaaaa! Hentikan lelucon gila ini! Ini mengerikan!” Euan memekik keras.

         “Weasley!” Bentak Profesor Minerva McGonaggal.

      “Baiklah, professor. Kami akan menunggumu di ruanganmu.” Ucap George dan Fred bersamaan.

         “Baguslah kalau kalian mengerti! Aku tidak tahu lagi bagaimana cara mengatasi kenakalan kalian! Pergilah, dan tunggu aku disana!” Profesor McGonaggal berkata, dari nadanya, ia terlihat marah besar. Bagaimana tidak? Hari bersejarah ini dicemari oleh sang kembar I Weasley.

           Acara penyeleksian siswa baru berlanjut lagi. Kali ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan, mungkin karena Fred dan George sudah diamankan. Beberapa lama kemudian, acara selesai. Dean Thomas, yang kini menjabat sebagai Prefek Gryffindor menggantikan Percy Weasley, memimpin barisan kelas satu menuju Ruang Rekreasi Gryffindor. Dean penerus yang baik, setidaknya lencana prefeknya tidak terlalu terlihat mengkilap, artinya ia tidak membersihkan lencana prefeknya setiap hari.

          “Flaurnd, saudara kembarmu sungguh gila!” Seru Hermione diantara bisingnya ruang Gryffindor.

        “Apa aku maksudmu? Baiklah, aku gila. Dan secepatnya aku akan segera menyusul kedua orangtua Neville di St. Mungo.” Jawab Ron, tersinggung. Ron memang sangat mudah tersinggung. Hermione terpaku, menyesal akan kata-katanya.

      “Aku yakin bukan kau maksud Hermione. Fred dan George juga saudara kembar kita, kuharap kau tidak berniat melupakan kenyataan itu. Dan kau tahu tadi apa yang mereka lakukan?” Aku menyanggah Ron, sekaligus menghibur Hermione.

       “Ya. Permen-petir, eksperimen 9.985 sebelum meninggalkan Hogwarts. Sudah kukatakan, mereka berdua gila.” Sahut Ron, tidak marah lagi.

            “Mereka lebih cocok berada di St. Mungo dibanding kau, Ron.” Ucap Hermione.

            “Ya, kau benar Hermione.” Ron membenarkan.

         “Aku mau ke kamar. Bye Ron, Bye Hermione. Selamat bersenang-senang!” Aku sangat letih dan ingin istirahat. Kunaiki tangga menuju kamarku, namun kemunculan Peeves yang tiba-tiba dan penuh kejutan benar-benar mengagetkanku. Aku terdorong ke belakang, dan aku merasa ringan sejenak. Kemudian, tubuhku membentur “sesuatu” seperti lantai, dan aku membuka mataku.

        Aku terbelalak. Tidak mempercayai penglihatanku. Kukucek mata demi memperjelas semuanya. Dan, semua tetap tampak sama. Ini kamarku, bukan Ruang Rekreasi Gryffindor. Rupanya semua hanya mimpi. Kualihkan pandanganku menuju jam dinding yang terpajang di kamarku, lalu berkata, “Celaka, aku terlambat!”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s